Itu kalimat jujur yang dilontarkan Ida (17 th), seorang gadis Desa Kermong, Kecamatan Bandan, Pekalongan Jateng. Ketika dia dan 6 orang temannya ketangkep Tim Buser di Teleju, Pekanbaru, Riau. Ida dan 6 ABG lainnya yang bernasib malang dipaksa oleh seorang mucikari untuk melayani lelaki hidung belang yang mampir ke warung 06. Sobat, terlepas apa yang diungkap sobat kita Ida itu disebut pembelaan atau apa. Yang jelas sudah nggak bisa ditutup-tutupi kalo kasus begituan udah terlalu sering menghiasi berita kriminal di televisi atau di koran-koran.
Kisah kayak yang dilakoni Ida emang sering berseliweran di depan kita. Tapi kenapa ya, koq kayaknya kasus begituan nggak ada matinya di negeri ini. Malahan menjadi-jadi. Mau bukti ? Menurut catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2003, jumlah PSK di bawah usia 18 tahun sesuai urutannya Surabaya di urutan 1 dengan sekitar 4.990 pelacur ABG, Bandung ada 2.511 anak, di Semarang jumlahnya 1.623 orang, di Jakarta sendiri ada 1.244 anak, sedang di Yogyakarta terhitung cuman 520 anak (mediaindonesia, 13/06/03). Konon, masih menurut ILO bahwa jumlah aslinya bisa lebih membengkak dari data diatas, sebab banyak sekali praktek “jual daging” alias prostitusi itu yang ilegal dan tidak terdata. Nah..loe !!
Bang-Bang Tut
Prend, kalo kamu lagi asyik masyuk ngerumpi bareng temen-teman se-gank, tiba-tiba ada bau nggak sedap nyelonong, tanpa permisi hadir ikutan ngebuyarin rumpian kamu. Dan yang lebih bikin bete bin sebel, kalo nggak ada yang ngaku, siapa si empunya hak patent kentut itu. Kita sih lega, seumpama begitu bau itu semerbak, trus ada yang celingukan, hampir bisa dipastikan yang belingsatan itu biang kerok jago kentutnya. Tapi kadang udah ninggalin ampas, trus nggak pake ngaku ditambahin nuding orang lain dan ngusulin supaya nyanyiin lagu Bang-Bang Tut, supaya tahu siapa yang kentut. Khan kacau ?
Nah, ngomong-ngomong soal kentut…eh, maksudnya soal pelacuran ABG. Untuk cariin siapa yang salah, nggak bisa kita langsung main tuduh atau nyanyiin Bang-Bang Tut. Malahan semuanya bisa nggak ngaku bersalah. Si mucikari bisa membela diri “Ini semua karena dorongan kebutuhan”. Sang penadah pun bakalan mengelak “Soalnya ada yang minta”. Nah, si gadis yang dijual (pelacur) nggak kalah hebatnya berkilah “Kalo nggak gini, siapa yang kasih makan saya?”. Tuh…khan?
Kita emang nggak bisa dan nggak boleh asal tuding. Apalagi kita muslim, su’udzon itu jelas sifat yang buruk. Jangan niru aksinya Amrik yang main tuding aja, ketika bom meledak di Bali, kontan si busuk George W. Bush mendudukkan umat Islam dengan tuduhan teroris. Wacaw !!!
Kalo kita mau jeli sebenarnya biang dari semua persoalan itu cuman satu. Apalagi, kalo bukan karena gaya hidup permisiv-materialistic. Waduh…bahasa planet mana tuh ? Gaya hidup permisiv-materialistic mulanya cuman ada di Barat, tapi kemudian gaya yang serba bebas tanpa aturan itu dipaksakan masuk ke negara-negara berkembang yang notabene negeri Islam, termasuk negerinya Joko Umbaran ini. “Trus gimana gaya hidup itu bisa ke transfer kesini?” Gampang banget, kita tinggal bolak-balik koran, majalah atau sanggongin teve, disitu semua gaya hidup permisiv (serba boleh) yang matre diimpor. Nah, karena saban hari, jam, detik mulai dari cara tidur sampe cara nyari teman buat tidur, kita diajari dengan gaya hidup macam itu. Misal, gaya itu nggak pas dengan budaya ketimuran. Okelah, akhirnya seleb kita yang pertama meniru, begitu udah ada tauladan dari seleb indonesia, maka jadilah budaya itu milik kita juga. Sekedar contoh, tau khan Nafa Urbach tampilannya di video klip “Lebih Baik Putus”? Tuh, cewek tanpa sungkan memproklamirkan dirinya niru gayanya Britney Spears, ”Saya hanya mengenakan pakaian yang bagian atasnya pendek, sebab pakaian lain membuat saya berkeringat ketika saya menari,” ujarnya seperti dikutip majalah Jerman, InStyle. Wis…wis rusak .
Ketika ada tuntutan untuk tampil ala Britney, Claudia Schiffer, Kate Holmes, Natalie Portman, Liv Tyler dan seabreg seleb Barat lainnya. Maka semua itu butuh duit, bukan daun. Seorang yang hidup melarat, ditambah iman yang melorot, udah barang pasti akan mudah tergoda. Baginya nggak perlu lagi pertanyaan jawaban multiple choice, pasti si miskin itu akan memilih jawaban “jual daging” tadi.
Nggak cukup itu prend. Berawal dari gaya hidup itu juga, seorang cewek yang berasal dari keluarga kacau, kacau itu bisa berarti broken home atau ortunya ada, tapi nggak care ama dia, sibuk ama urusanya sendiri-sendiri. Maka ini juga bisa membidani lahirnya ABG yang kehilangan jati diri, akhirnya mereka nekat menjual harga diri kepada om-om belang…eh, maksudnya om hidung belang .
Kerbau Makan Tanaman
Pernah tahu kerbau khan ? Kerbau hanya salah satu jenis binatang yang biasanya digembalakan di tempat yang disitu banyak ditumbuhi rerumputan dan tanaman. Namanya aja binatang, nggak punya tata kromo. Bisa jadi kalo si penggembala lagi nggak merhatiin, tuh kerbau bisa makan tanaman kebun orang, dan ujungnya kita nggak bisa nyalahin si kerbau, tapi penggembala yang pantas dituduh teledor merhatiin gembalaannya. Tul nggak ?
Nah, selevel dengan itu, kenapa pelacur makin menggila, dan mucikarinya nggak kapok-kapok. Sangat boleh jadi, mucikari pake prinsipinya kerbau tadi “gue khan piaraan, jangan salahkan gue dong, salahin tuh yang memelihara gue” begitu kira-kira kilah si mucikari. Artinya mulai dari pelacur, tempat prostitusi, sampe mucikarinya sebenarnya ada yang lebih kuasa untuk memprogram itu semua. Siapa lagi kalo bukan Penguasa, ya nggak? ?
Emang persis apa yang disabdakan Rasulullah Saw :
“Seorang Imam (penguasa) adalah perisai (pelindung) bagi umatnya” (al-Haditsn)
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (HR. Abu Nu’aim)
“Seorang pemimpin (penguasa) adalah pemelihara, dia bertanggung jawab atas pemeliharaan mereka” (HR. Al-Bukhari)
Jadi penguasa harus punya sense of crisis alias ikutan care terhadap persoalan pelacuran ABG ini. Bukan hanya menangkapi pelacurnya doang, tapi tempat prostitusi dibarin merajalela, malahan ditarikin pajak. Mucikarinya pun kudu dihukum dengan hukuman yang setimpal. Kalo cuman di razia tiap malam Jum’at, itu mah sama aja ibarat memotong rambut yang ada di kepala. Biarpun sampe botak, toh nantinya akan tumbuh lagi tuh rambut, soalnya masih ada kepalanya, tempat tumbuhnya rambut. Kalo mau tuntas, yang dihabisi mustinya kepalanya…hah…maksudnya dipenggal. Kacian dong !!!
Emang kalo kita ngandelin perasaan, kita akan merasa kasihan melihat pelacur itu ditangkapi, padahal mereka katanya hanya dengan cara itu, mereka dapat duit buat makan. Nah, lagi-lagi penguasa yang harus ditunjuk hidungnya buat nyelesain masalah ini semua. Pemerintah harus menyediakan lapangan kerjaan yang cukup, pendidikan yang memadai dan jangan lupa kesejahteraan yang merata.
Well, bagi siapa aja yang pengin hidup sejahtera, mulia dunia dan akhirat, maka kita harus bangun komitmen, pada diri kita bahwa we will back to syari’ah Islam. Keluarga kita pun, harus kita jaga supaya hanya jadiin Islam is the one answer. Trus, jangan ketinggalan juga masyarakat kudu menata dengan keyakinan penuh, bahwa masyarakat bisa tenang, damai dan tentram kalo Islam benar-benar jadi way of life. Dan terakhir, penguasa nggak boleh acuh, nggak boleh gengsi, nggak perlu berpikir 1001 kali, meskipun sekarang kaum muslimin terpecah belah menjadi 50 lebih negara, maka penguasa harus punya semboyan “Walaupun berbeda, hanya Islam Solusinya”. Wallahu’alam bishowab. (luky)